PANGKALAN BUN – Di tengah dinamika perkembangan Kota Pangkalan Bun, Bundaran Tugu Tudung Saji hadir sebagai penanda identitas yang tenang namun bermakna kuat. Ia mungkin tidak paling megah dibandingkan bundaran lainnya, tetapi justru di sanalah letak kekuatannya—pada simbol yang tumbuh dari keseharian masyarakat Kotawaringin Barat dan merepresentasikan akar budaya yang masih terjaga.
Tudung saji, sebagai objek utama tugu, adalah benda sederhana yang lekat dengan kehidupan rumah tangga masyarakat lokal sejak dahulu. Fungsinya melindungi makanan dan menjaga kebersihan, namun di balik kesederhanaan itu tersimpan nilai-nilai filosofis tentang perlindungan, kepedulian, dan kebersamaan dalam keluarga. Nilai-nilai ini hidup, dipraktikkan, dan diwariskan lintas generasi.
Berbeda dengan simbol perkotaan yang kerap bersifat universal, tudung saji tidak hadir sebagai ornamen yang netral. Ia lahir dari budaya lokal, dari ruang domestik masyarakat, dan dari tradisi yang masih dijaga hingga kini. Karena itulah Bundaran Tudung Saji memiliki karakter yang khas dan sulit disamakan dengan simbol kota di daerah lain.
Kepala Dinas Nakertrans Kotawaringin Barat, Yudhi Hudaya menyebut kedekatan simbol ini membuat masyarakat merasa memiliki. Bundaran Tudung Saji tidak berdiri sebagai monumen yang asing, melainkan sebagai penanda jati diri yang komunikatif dan mudah dipahami.
“Setiap warga yang melintas seolah diajak membaca ulang pesan tentang kebersamaan dan rasa saling menjaga yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat setempat,” ujar Yudhi Hudaya, Rabu (28/1).
Dalam perspektif pembangunan kota, keberadaan simbol lokal semacam ini memiliki nilai strategis. Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, kota membutuhkan ruang-ruang yang mampu menjaga ingatan kolektif warganya. Identitas lokal bukan penghambat kemajuan, melainkan fondasi agar pembangunan tetap berpijak pada nilai dan karakter daerah.
Dengan demikian, Bundaran Tudung Saji patut ditempatkan sebagai ikon budaya Pangkalan Bun dan Kotawaringin Barat. Ia bukan sekadar elemen estetika kota, melainkan simbol kesahajaan yang sarat makna—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ruang publik yang hidup dan bermartabat. (Yus/And)










